Untuk menunjang program-programnya, Yayasan membutuhkan sebidang lahan seluas 5.000 hingga 10.000 meter persegi. Menurut rencana, pengadaan lahan diusahakan di Jakarta atau sekitarnya. Alasan pemilihan lokasi tersebut adalah kemudahan perekrutan kader dan efektifitas dakwah. Jakarta memiliki konsentrasi manusia yang tinggi sekaligus merupakan pusat komunikasi nasional yang strategis. Sebagai contoh, keberadaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta menawarkan potensi hingga 13.000 mahasiswa yang sudah terseleksi dan relatif siap untuk mengikuti berbagai program pengkaderan. Begitu juga dengan santri dari pesantren-pesantren tradisional. Mereka cukup banyak berada di sekitar Jakarta.
Harga lahan belum diketahui, namun untuk tujuan anggaran ditetapkan Rp 500.000 (lima ratus ribu Rupiah) per meter persegi. Dengan demikian, total anggaran untuk pengadaan lahan (10.000 meter persegi) adalah Rp 5 milyar.