Sambutan

بسم الله الرحمن الرحيم

img_1136Segala puji hanya milik Allah SWT. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Setelah menimba ilmu Islam di Timur Tengah (S1 di Al-Azhar University, S2 di Omdurman University dan S3 di International African University Sudan) selama 17 tahun, maka saya pulang ke Indonesia pada akhir tahun 2002 M untuk mengamalkan ilmu dalam masyarakat.

Setelah bergabung dengan masyarakat selama lima tahun lebih, saya melihat bahwa pengamalan Islam di Indonesia – sebagai negara Muslim terbesar di dunia – tidak berjalan seperti yang diharapkan. Kesedihan pun mewarnai kehidupan saya dengan maraknya maksiat dan kejahatan. Penghancuran akidah dan moral marak di tengah masyarakat. Perpecahan dalam tubuh umat Islam semakin mencuat. Pornografi dan homoseksualitas diusulkan untuk mendapat perlindungan. Hukum Islam yang sudah baku dalam Alquran terus diperdebatkan.

Di sisi lain, penjarahan uang rakyat, perampokan, pembunuhan, perselingkuhan dan narkoba terus menjamur.

Kewajiban dan anjuran pokok dalam agama kurang menarik untuk diamalkan, sementara hal-hal kecil yang tidak menyentuh Islam secara langsung malah mendapat prioritas dan dianggap masalah utama.

Aliran-aliran sesat tumbuh subur dan ikut mewarnai masyarakat Muslim yang mayoritas dari kalangan awam.

Ulama sudah berupaya maksimal untuk menangani arus penghancuran akidah dan moral. Namun tidak sedikit dari dakwah mereka hanya sia-sia dan tidak membawa perubahan yang signifikan. Bahkan ada di antara ulama yang muncul bukan untuk menyelesaikan masalah umat, tetapi sebaliknya membuat masalah baru yang lebih parah.

Pemberi taushiyah dihadirkan sebagai pelawak. Banyak penceramah, khatib Jum’at dan imam shalat juga tidak fasih membaca Alquran.

Dalam kondisi ini tidak ada pihak yang dipersalahkan. Tetapi saya melihat bahwa belum ada satu badan pendidikan yang bergerak secara kusus untuk membina, menatar dan mengorbitkan ulama-ulama handal yang berakidah, berilmu dan berwawasan luas yang diterjunkan dalam masyarakat.

Fenomina itulah yang membuat emosi saya tak bisa terbendung. Teman-teman setia yang selalu mendampingi dakwah selama ini pun saya panggil. Sambutan hangat dan wajah ikhlas kelihatan dalam setiap pertemuan. Usulan untuk mendirikan sebuah Yayasan dalam rangka menangani problema umat Islam yang semakin hari semakin memburuk tidak bisa dielakkan.

Maka pada 22 Januari 2008, atas izin Allah sebuah badan hukum yang bernama Yayasan Ihya’ Qalbun Salim berdiri sebagai wadah perjuangan ini.

Pendidikan dalam Yayasan ini akan dikelola semaksimal mungkin dengan manajemen yang baik, dengan harapan mampu melahirkan tokoh agama yang akan mendampingi umat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Selanjutnya saya sangat mengharapkan bantuan kaum muslimin berupa pikiran, dana dan lainnya untuk mempercepat terwujudnya cita-cita suci dari Yayasan ini. Semua bantuan yang diberikan akan menjadi amal saleh di Hari Akhirat, yaumun laa yanfa’u maalun walaa banuun illaa man atallaaha bi Qalbin Saliim (hari ketika harta dan anak tidak berfungsi, kecuali orang-orang yang memiliki hati yang damai dalam ridha Allah).

Rusli Hasbi